JURNAL ILMIAH- UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PAI MATERI AKHLAK MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS V SD NEGERI LEREP 02 KABUPATEN SEMARANG
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PAI MATERI AKHLAK MELALUI
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS V SD
NEGERI LEREP 02 KABUPATEN SEMARANG
TAHUN PELAJARAN 2021/2022
Khusnul Ariefah
Budiarti
Guru PAI SD Negeri Lerep 02
Kabupaten Semarang
Abstrak
Tujuan penelitian ini yaitu
untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama
Islam Materi Indahnya Saling Menghargai pada siswa kelas V di SD
Negeri Lerep 02. Adapun jenis penelitian ini
adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Subyek penelitian ini adalah
siswa di kelas V SD Negeri Lerep 02
yang berjumlah 22 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dan tes. Teknik analisis data menggunakan rumus rata-rata nilai, presentase ketuntasan belajar dan data observasi.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar pendidikan agama islam di SD Negeri Lerep 02. Hal ini dapat dibuktikan
dari rata-rata siswa yang sebelum diterapkan model pembelajaran Problem
Based Learning adalah 58, siswa yang mendapat nilai
diatas KKM 75 adalah 27%. Dari hasil siklus 1
rata-rata nilai memperoleh 66, siswa yang mendapat nilai diatas 70 adalah 55%. Siklus II rata-rata nilai memperoleh 79, siswa yang mendapat nilai diatas KKM 75 adalah 73%. Setelah siklus III diperoleh
rata-rata nilai 85 , siswa yang mendapat nilai
diatas KKM 75 adalah 91% menunjukkan
bahwa adanya peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model pembelajaran Problem
Based Learning
Kata Kunci: Model
Pembelajaran Problem Based Learning, Hasil Belajar, Pendidikan Agama Islam
PENDAHULUAN
Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam adalah sebuah proses untuk mempersiapkan
manusia supaya hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, sehat jasmaninya,
sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur
fikirannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik lisan maupun tulisan. Pendidikan Islam merupakan
bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum Agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut
ukuran-ukuran Islam (Nafis,
2011: 23). Tujuan utama dari Pendidikan
Agama Islam ialah membina dan memberikan dasar kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam sesuai
pengetahuan yang dimiliki.
Hasil belajar pada
dasarnya adalah suatu kemampuan yang berupa keterampilan
dan perilaku baru sebagai akibat dari latihan atau pengalaman yang diperoleh. Hasil belajar pada diri seseorang
sering tidak langsung
tampak tanpa seseorang
melakukan tindakan untuk memperlihatkan kemampuan
yang diperolehnya melalui
belajar.
Guru diharapkan mampu merancang proses
pembelajaran semaksimal mungkin. Guru perlu mempersiapkan segala sesuatu yang
berhubungan dengan proses pembelajaran baik dalam penyusunan rancangan
pelaksanaan pembelajaran (RPP), media pembelajaran, sumber belajar, dan model
pembelajaran yang akan digunakan.
disesuaikan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan dan karakteristik siswa. Guru perlu merencanakan
pembelajaran sebaik mungkin dengan jalan mengupayakan peserta didik terlibat
langsung untuk belajar menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan agar
mendapat hasil belajar yang maksimal.
Berdasarkan hasil
observasi awal yang dilakukan penulis di SD Negeri Lerep 02 terungkap masih
banyak siswa yang kurang memperhatikan pejelasan guru. siswa cenderung pasif
karena proses pembelajaran masih berpusat pada guru (Teacher Centered).
Karena kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran maka berpengaruh
juga pada hasil belajar ulangan harian dan semester dimana masih banyak anak
yang nilainya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Salah satunya adalah pembelajaran
materi akhlak dimana anak seharusnya mendapatkan pengalaman belajar praktis
tidak hanya teoritis saja agar lebih tertanam dalam diri mereka.
Berdasarkan kondisi
tersebut peserta didik membutuhkan inovasi
model pembelajaran baru untuk merangsang daya tarik dan keaktifan siswa dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar PAI khususnya dalam materi akhlak. Maka digunakan model
pembelajaran Problem Based
Learning (PBL). Problem Based Learning merupakan suatu model pengajaran dengan pendekatan
pembelajaran siswa pada masalah autentik.
Masalah autentik dapat diartikan sebagai suatu masalah yang sering ditemukan
siswa dalam kehidupan
sehari-hari. Hal tersebut sangat cocok diterapkan pada materi pembelajaran
akhlak yang membutuhkan pengalaman belajar yang bisa dirasakan langsung oleh
siswa. Model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) akan
memotivasi dan siswa akan menjadi lebih aktif sehingga pelajaran dapat dipahami dan dimengerti. Nantinya akan
berdampak terhadap peningkatan hasil belajar. Kelebihan dari model ini adalah
meningkatkan kemampuan siswa untuk berinisiatif mencari informasi yang akan
digunakan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang diberikan oleh
guru. Model pembelajaran ini juga mendukung proses pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik (Student Centered)
METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan
kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas yaitu penelitian tindakan
(action researc)yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelasnya. PTK berfokus pada
kelas atau berfokus pada proses belajar mengajar
yang terjadi dikelas
(Arikunto, 2011:58)
Prosedur Penelitian
Sesuai dengan yang
dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan ini tidak hanya dilakukan satu
tahapan / langkah (siklus) kegiatan melainkan
beberapa kali siklus kegiatan. Karena penelitian tindakan kelas adalah
sebagai suatu bentuk investigasi yang
bersifat reflektif, kolaboratif dan spiral yang memiliki tujuan untuk perbaikan system metode kerja,
proses, isi, kompetensi, dan situasi (Arikunto, 2011: 104) daur ulang dalam penelitian diawali
dengan perencanaan tindakan
(planning), penerapan tindakan
(acting), mengobservasi /pengamatan (observing), dan melakukan refleksi
(reflekting), dan
seterusnya sampai perbaikan
atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan) (Saminanto, 2010 : 8)
Lokasi, Subyek dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian adalah
di SD Negeri Lerep 02 Kecamatan Ungaran
Barat Kabupaten Semarang. Subjek penelitian ini adalah siswa di kelas V SD Negeri Lerep 02 , jumlah siswa tahun
pelajaran 2021-2022 sebanyak 22 siswa yang terdiri dari laki-laki 14 dan perempuan 8. Waktu pelaksanan penelitian, semester
ganjil tahun pelajaran 2021 mulai
tanggal 20 September sampai 18 Oktober 2021.
Teknik Pengumpulan dan
Analisis Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk
pengumpulan data dalam penelitian adalah observasi dan tes. Teknik analisis data menggunakan
teknik deskriptif kompratif yaitu dengan membandingkan hasil belajar antara
hasil belajar kondisi awal, siklus I, siklus II, dan siklus III menggunakan rumus rata-rata
nilai, presentase ketuntasan belajar dan data observasi
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Penelitian ini berjalan
dalam tiga siklus, yang dalam setiap siklusnya berlangsung satu kali pertemuan
atau pembelajaran tatap muka (setiap pertemuan =2 x 35 menit). Setiap siklus
penelitian terdiri dari 4 (empat) tahap kegiatan utama, yaitu perencanaan, tindakan
pengamatan dan refleksi. Data yang dikumpulkan dalam setiap siklus adalah data
yang berhubungan dengan hasil belajar
siswa melalui instrumen pengumpul data yang telah ditetapkan, dalam hal ini
adalah melalui format observasi dan lembar soal tes yang telah disiapkan oleh
guru. Peningkatan hasil belajar siswa tiap siklusnya bisa dilihat pada tabel
berikut
Tabel 1. Perbandingan Hasil Belajar
Siswa Pra Siklus, Siklus
I, Siklus II, dan Siklus IIII
|
No |
Aspek Hasil Belajar |
Jumlah Siswa |
|||
|
Pra Siklus |
Siklus I |
Siklus II |
Siklus
III |
||
|
1 |
Tuntas |
6 |
12 |
16 |
20 |
|
2 |
Belum tuntas |
16 |
10 |
6 |
2 |
|
3 |
Rata-rata hasil |
58 |
66 |
79 |
85 |
|
4 |
Presentase Ketuntasan |
27% |
55% |
73% |
91% |
Dari
tabel perbandingan hasil nilai belajar diatas, untuk lebih jelas
dapat juga bisa dilhat
pada diagram sebagai berikut :
Diagram 1. Perbandingan
Hasil Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III
Siklus III

Pra Siklus
Penelitian awal yang peneliti lakukan sebelum
melaksanakan tindakan berupa siklus
baik siklus satu, siklus dua maupun siklus tiga adalah pembelajaran sebelum
menggunakan model Problem Based Learning. Hasil memperlihatkan
ketuntasan belajar hanya mecapai 27% sehingga peneliti mencoba menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil
belajar
Siklus 1
Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I menggunakan
model pembelajaran problem based learning
masih belum optimal, hal tersebut
ditunjukkan masih kurangnya partisipasi siswa
untuk mendengarkan dan mengikuti pembelajaran dengan semangat karena masih
banyak siswa yang sibuk dan asyik mengobrol
dengan teman lainnya. Hal tersebut juga dikarenakan
anak anak masih beradaptasi dengan model pembelajaran ini.
Pada siklus I karena
masih adanya beberapa kekurangan dalam proses
pembelajaran pada siklus I, maka berdampak pada kurangnya tingkat pemahaman siswa, hal tersebut bisa dilihat
dari hasil data ketuntasan belajar pada siklus
I yang baru mencapai 55% yang artinya baru 12 orang yang mendapatkan nilai tuntas dari 22 siswa yang ada, namun data
sudah ada peningkatan prestasi siswa
pada siklus I dibandingkan sebelum perbaikan/pra siklus
Siklus 2
Pada siklus II siswa sudah mulai aktif dalam
proses pembelajaran dan bisa mengikuti model pembelajaran problem based
learning dengan cukup baik. Namun saat proses tanya jawab dalam diskusi
masih ada beberapa siswa yang belum berani dan masih malu serta takut dalam
menyampaikan pendapatnya.
Hasil pada siklus II
sudah cukup baik dan meningkat namun karena masih adanya beberapa kekurangan
dalam proses pembelajaran pada siklus
II, maka hasil yang diperoleh masih belum optimal, hal tersebut bisa dilihat
dari hasil data ketuntasan belajar pada siklus
II yaitu 73% yang artinya 16 orang sudah mendapatkan
nilai tuntas dari 22 siswa yang ada, namun hal tersebut belum mencapai
indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 85% sehingga masih dilanjutkan
siklus III agar mendapat hasil yang optimal
Siklus 3
Pada siklus III siswa sudah aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bisa mengikuti model
pembelajaran problem based learning secara keseluruhan baik dari
pertanyaan dan jawaban yang diberikan serta mampu memberikan tambahan informasi terhadap
pertanyaan maupun jawaban. Guru dalam hal ini hanya memberikan dan mengawasi terhadap jalannya proses
diskusi yang dilakukan oleh siswa.
Ada peningkatan keaktifan
siswa dalam proses pembelajaran, semua
siswa berusaha memahami materi yang diberikan oleh guru, siswa juga sangat antusias sehingga menyimak jalannya tanya
jawab yang dilakukan oleh teman yang
lainnya. Setelah dilakukan tes atau penilain diakhir
pembelajaran pada siklus
III, ternyata hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan dalam
proses pembelajaran, hal tersebut bisa dilihat dengan
adanya perolehan nilai yang lebih baik bila dibandingkan siklus I jumlah siswa yang tuntas 12 siswa mencapai ketuntasan 55%. Pada siklus II
jumlah siswa yang tuntas 16 siswa
sehingga ketuntasan belajar meningkat menjadi 73%. Pada siklus III jumlah siswa
yang tuntas 20 siswa sehingga
ketuntasan belajar meningkat menjadi 91% dan
hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran akhlak dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning dapat
meningkatkan hasil belajar
siswa sesuai dengan yang diharapkan
KESIMPULAN
Pembelajaran menggunakan problem based learning dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada bidang studi PAI di SD
Negeri Lerep 02. Hasil belajar
siswa yang sebelum
diterapkannya model problem
based learning belum memenuhi kriteria standar ketuntasan minimal (KKM)
namun setelah diterapkan model Pembelajaran problem based learning
hasil belajar siswa meningkat, terlihat pada peningkatan ketuntasan belajar
pada setiap siklus yang dilalui.
Penggunaan model pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
PAI. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai sebelum sebelum diterapkannya model pembelajaran problem based learning adalah 58, banyaknya siswa
yang mendapat nilai diatas 75 (KKM) adalah 27%. Dari hasil siklus I rata-rata nilai memperoleh 66, banyaknya siswa
yang mendapat nilai diatas 75 adalah 55%, hasil observasi aktifitas
siswa adalah 66 (cukup) dan hasil observasi
aktifitas guru 75 (cukup). Siklus
II diperoleh rata-rata
nilai 79 , siswa yang mendapat diatas 75 adalah 73%,
hasil observasi aktifitas siswa adalah 81% (Cukup) dan hasil observasi aktifitas
guru 85% (Baik). Setelah
siklus III diperoleh rata-rata nilai 85, siswa yang mendapat nilai di atas KKM
(75) adalah 91%, hasil observasi aktifitas siswa adalah 91% (Baik) dan hasil
observasi aktifitas guru 93% (Sangat Baik)
Dengan demikian,
hasil belajar siswa dan hasil analisis lembar observasi
pengamatan meningkat kearah yang lebih baik dengan penerapan model Pembelajaran problem based learning dibandingkan dengan menggunakan metode
ceramah dan diskusi kelompok
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.
2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
PT. Bumi Aksara
Majid,
Abdul dan Dian Andayani. 2006. Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi. Bandung:
Remaja Rosda Karya
Nafis, Muhammad Muntahibun. 2011.
Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta : Sukses Offset
Sastrawati, Eka. Problem Based Learning,
Strategi Metakognisi, Dan Keterampilan Berpikir
Tingkat Tinggi Siswa. Jambi: Jurnal Tekno- Pedagogi Vol. 1 No. 2 September 2011
Sudijono, Anas. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Rajawali
Pers
Sudjana, Nana. 2006. “Penilaian
hasil Proses Belajar
Mengajar”. Bandung : Remaja
Rosdakarya
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana
Komentar
Posting Komentar